Monday, April 7, 2014

[id-android] WTI: Review Nokia X

Mengingat total ada 12 foto, terlalu besar kalau seluruhnya saya kirimkan ke milis. Hanya enam yang saya posting. Versi komplet dapat diintip di http://goo.gl/ory8iU
 
Tautan di atas boleh Anda informasikan dan sebarkan kepada orang lain.
 
Tanpa konfirmasi dan izin tertulis, dilarang memakai naskah review ala HSW untuk materi promosi atau bahan penunjang berjualan.

 
Pada September 2010, Anssi Vanjoki yang saat itu menjadi salah satu petinggi Nokia menyatakan tak berminat dengan Android. Menurutnya, mengadopsi Android ibarat (maaf) kencing di celana ketika musim dingin. Cuma hangat sebentar, kemudian menggigil kedinginan.

Dua bulan lalu, Nokia akhirnya (maaf lagi) pipis di celana. Hasil pertamanya adalah Nokia X yang mulai 12 April 2014 akan dijual di Indonesia. Ponsel pertama Nokia yang dapat menjalankan aplikasi Android itu dibanderol Rp 1,6 juta. Sedangkan harga promo yang berlaku dengan persyaratan tertentu konon dipatok Rp 1,2 juta.

Bentuk Fisik

Penulis kebetulan telah mencoba X. Dua unit sekaligus malahan. Satu berwarna hitam, satu lagi hijau. Kali pertama melihat produk aslinya, penulis langsung teringat dengan aneka tipe ponsel Nokia Lumia yang pernah diuji pakai. Permukaan bodi belakang X cenderung doff dan kesat. Penampakan unit berwarna hitam relatif sama dengan foto yang tersaji di situs Nokia. Sedangkan wujud nyata X hijau lebih tua dan norak daripada yang tergambar.

Kalau bagian belakang ponsel berdimensi fisik 115,5 x 63 x 10,4 mm dan berat 128,7 gram itu dibuka, bakal terlihat tiga selot kartu. Dua di antaranya untuk kartu SIM mikro, sedangkan satu selot yang berada di tengah untuk kartu memori microSD. Baterai bawaan ponsel berjenis lithium ion dengan kapasitas 1.500 mAh.

Sistem Operasi dan Tampilan Antarmuka

Meskipun dapat menjalankan aplikasi Android, sejak awal peminat X pantang menganggap ponsel itu sama dengan ponsel Android yang telah beredar di pasar. Ia tidak dilengkapi Google Mobile Services seperti Play Store, Gmail, YouTube, dan Google Maps.

Nokia menyatakan X memakai Nokia X software platform 1.1. Dalam bahasa yang lebih mudah, hal itu merupakan perpaduan antara Android Open Source Project (AOSP), layanan khas Nokia, dan layanan khas Microsoft.

Bila dicermati, versi Android yang dipakai di X adalah Android 4.1 Jelly Bean. Layanan khas Nokia yang dapat dinikmati pengguna, antara lain, HERE Maps, Here Drive, dan MixRadio. Sedangkan layanan Microsoft yang siap dioptimalkan, contohnya, Skype dan OneDrive.

Tak perlu heran kalau tampilan antarmuka (user interface) X menyerupai live tiles alias “kotak-kotak keramik” ala ponsel bersistem operasi Windows Phone. Nokia memang sengaja membuatnya seperti itu. Cukup cantik sih. Namun, mantan pengguna ponsel Android lain berarti harus beradaptasi dulu.

Berburu Aplikasi Tambahan

Saat diaktifkan untuk kali pertama, beragam aplikasi langsung dapat dijumpai di X. Di antaranya, BlackBerry Messenger (BBM), Facebook, Twitter, Skype, WeChat, dan Astro File Manager. Ada pula permainan Fruit Ninja, Danger Dash, Bejeweled 2, Tetris, dan Monopoly Classic.

X tanpa Play Store. Bagaimana caranya menginstalasikan aplikasi tambahan? Pengguna dipersilakan masuk ke Nokia Store dan berburu di sana. Dalam pantauan penulis, ragam aplikasi yang tersedia masih relatif terbatas. Saat penulis mencari WhatsApp, misalnya, ternyata belum ada. Padahal, WhatsApp merupakan salah satu aplikasi yang sangat populer di berbagai sistem operasi.

Solusi atas keterbatasan itu ada dua macam. Pertama, pengguna bisa memanfaatkan pasar aplikasi pihak ketiga. Misalnya, 1Mobile.com dan Aptoide.com. Alternatif kedua, instalasikan file mentahan berformat APK yang sebelumnya telah diunduh dari Play Store. Kopikan file itu ke X, instalasikan, lalu jalankan.

Spesifikasi Teknis

Prosesor berinti ganda (dual core) Qualcomm MSM8225 1 GHz, RAM 512 MB, ROM 4 GB, bluetooth, Wi-Fi, dan GPS merupakan sebagian spesifikasi X. Memori internal ponsel dibagi dua, yaitu 1,29 GB internal storage dan 1,17 GB phone storage. Kala ponsel masih dalam kondisi segar, sisa kapasitas internal storage mencapai 668 MB, sedangkan phone storage sama sekali belum terpakai.

Layar sentuh X berukuran empat inci dengan resolusi 800 x 480 piksel. Ponsel dengan radio FM itu hanya memiliki satu kamera. Kamera tanpa fokus otomatis dan lampu kilat tersebut mampu menghasilkan foto beresolusi maksimal 2.048 x 1.536 piksel atau setara dengan 3,15 megapiksel. Kalau difungsikan sebagai perekam video, ia dapat memproduksi klip video beresolusi hingga 864 x 480 piksel.

Dua nomor GSM, seluruhnya memakai kartu micro SIM, dapat siaga bersamaan di X. Nomor yang terpasang di selot pertama berkesempatan menikmati akses HSDPA dengan kecepatan unduh sampai 7,2 Mbps. Namun, pengguna tak bisa mengunci ponsel supaya selalu berada di jaringan 3G. Sementara itu, nomor yang terpasang di selot kedua harus puas merasakan jaringan 2G.

Kinerja

Karena spesifikasi X pantas disebut amat biasa, sejak sediakala penulis tidak mematok harapan berlebihan terhadap ponsel itu. “Yang penting saya segera mencoba ponsel pertama Nokia yang bisa menjalankan Android tersebut. Biar tak penasaran lagi,” kata penulis dalam hati.

Usai beberapa hari menguji pakai X, ekspektasi yang sengaja dipatok ala kadarnya itu rupanya tetap gagal terpenuhi. Kinerja umum ponsel tersebut pantas dinilai buruk. Ia cenderung lambat. Jauh dari kesan trengginas. Kalau di-scroll dari atas ke bawah atau sebaliknya, layar bergulir kurang lembut.

Kala dipakai untuk aktivitas internet yang ringan, entah browsing atau memantau email, bodi ponsel sudah terasa hangat mendekati panas. Daya tahan baterai X pun tidak istimewa. Rata-rata bertahan delapan jam saja.

X sebenarnya dibekali kemampuan screen double tap. Pengguna cukup mengetuk layar dua kali untuk menyalakan layar. Praktiknya, tingkat keberhasilan fitur tersebut sangat rendah. Sepuluh kali penulis mencobanya, belum tentu satu kali berhasil. Probabilitas kesuksesan fitur serupa di Nokia Asha 501 jauh lebih tinggi.

Rekomendasi

Membeli ponsel lain tampaknya lebih bijak. Kalimat singkat itu merupakan rekomendasi paling menukik yang dapat penulis berikan, setelah tuntas mencicipi Nokia X. Dengan memperhatikan spesifikasi, performa, dan “harga” merek Nokia, penulis menilai X idealnya dijual dengan harga maksimal Rp 1 juta.

Ambang atas harga itu bisa lebih rendah kalau penulis diminta melakukan penilaian buta. Anggaplah X disodorkan tanpa merek kepada penulis. Penulis dipersilakan mencobanya, lalu memberikan label harga yang pantas. Dalam kondisi itu, penulis tampaknya bakal menyebutkan angka Rp 799 ribu.

Daripada melirik X, meminang Smartfren Andromax C yang harga jualnya kini Rp 700 ribuan tampaknya lebih tepat. Alternatif lain, membelanjakan dana Rp 775 ribu untuk membawa pulang ponsel Android dual SIM GSM-GSM Acer Liquid Z2. Kalau wajib Nokia, tersedia Lumia 520 yang harga jual barunya telah menyentuh Rp 1,2 juta.

*******

Isi paket penjualan terdiri atas ponsel, baterai, handsfree berkabel, dan charger. Tidak disertakan kabel data.

*******

Beberapa foto yang dihasilkan kamera X.

*******

Hasil pengukuran Antutu Benchmark, Quadrant Standard Edition, dan Android Sensor Box.

 

Salam,

 

Herry SW

1 comment: